Welcome, Lonely Hearts, to the place where loneliness is celebrated. Rejoice, for your search and longing is the sign that you are living.

You might think this is just an illusion. Who knows, it might be your reflection

September 7, 2017

Hurt



Sakit.

Cepat – cepat kugigit bibir bawahku sebelum bergetar tak terkendali.

Sakit… sekali.

Kali ini kukepalkan kedua tangan dengan menekankan ujung kukuku yang runcing ke telapak tangan.

Kenapa rasanya sakit sekali?

Untuk yang terakhir, aku memejamkan mata rapat – rapat.

.

.

.

Namun pertahanan itu runtuh seketika saat kudengar langkahnya yang perlahan mendekat dan berhenti tepat di hadapanku.

“Aku ikut senang karena kaulah orangnya. Kaulah… satu – satunya orang yang berhasil membuat kakakku jatuh cinta.”

Tes. Tes. Tes.

Air mata yang berusaha kutahan mati – matian di balik kelopak mataku berhasil menemukan jalan keluarnya dan mengalir perlahan, menganaksungai di pipiku. Menunjukkan kelemahan yang selama ini kututupi demi orang di hadapanku… dan saudaranya. Ralat, kakaknya. Kakak tirinya.

-ooo-

Aku memandang lawan bicaraku. Menatapnya dalam diam, menunggu reaksi apapun darinya.

Maaf.

Tanpa sadar pandanganku melunak. Kuberanikan diri untuk berjalan mendekat dengan menyisakan ruang kosong diantaranya.

“Aku ikut senang karena kaulah orangnya. Kaulah… satu – satunya orang yang berhasil membuat kakakku jatuh cinta.”

Kedua mataku menelusuri wajahnya. Kulihat aliran bening itu. Segera kutundukkan kepalaku sejenak sebelum kembali menatapnya.

“Kau akan bahagia dengannya. Percayalah.”

-ooo-

Kedua matanya bergetar membuka, menampilkan iris kecoklatan yang selalu mampu menghanyutkanku. Membuatku bertekuk lutut seketika. Berlebihan memang, tetapi itulah yang kurasakan setiap menatap tepat ke matanya.

“Kau… menangis lagi. Apa mimpi menyedihkan itu masih mengganggumu?”

Wajahnya yang masih dihiasi air mata perlahan berbalik menghadap ke arahku. Menatap menembus kedua mataku. Mengirimkan sinyal kesakitan yang langsung terhubung ke sistem saraf penglihatanku meski ia telah berusaha mengalihkannya dengan sapuan senyuman tipis itu. Senyuman yang membuatku menggila di waktu pertama melihatnya.

“Mmh, begitulah.”

Aku segera menariknya ke dalam pelukan setelah menghapus jejak air mata itu di pipinya. Kuusap pelan punggungnya. Ia hanya diam di pelukanku. Tidak memberontak untuk melepaskan diri, pun tidak membalasnya. Selalu begitu.

Tak apa. Kau memilihku dan aku berhasil memilikimu saja sudah sangat kusyukuri.

Terus kuulang – ulang kalimat sakti itu di pikiranku. Kalimat yang tak lelah untuk kudengungkan selama lima tahun terakhir ini, sejak hari pernikahanku dengannya. Kalimat yang selalu memberiku kekuatan untuk menghadapinya hari demi hari.

“Jam berapa ini?”

Pertanyaannya menyeretku kembali pada kesadaran. Pertanyaan yang sebenarnya adalah isyarat darinya untuk melepaskan diri dariku. Dengan terpaksa kubuka kaitan tanganku yang memeluk tubuhnya.

“Jam 6”

“Aku akan segera menyiapkan sarapan dan segala keperluanmu.”

Itulah akhirnya. Ia tak mau lagi berada di dekatku. Aku memaksakan untuk tersenyum padanya sambil mengusap wajahnya yang masih sejangkauan tangan.

“Baiklah.”

Ia balas tersenyum. Salah satu tangannya memegang tanganku yang masih berada di wajahnya, meremas pelan dan menariknya menjauh. Belum sempat kuberikan kecupan di kening indah itu, ia segera bangkit dari posisinya dan beranjak pergi. Meninggalkanku yang hanya dapat menatap punggungnya.


-ooo-


(Sumber gambar: https://i.pinimg.com/736x/da/44/bc/da44bc840547ad3e62900d1d5a7ac2f8--love-hurts-love-is.jpg)

0 comments:

Post a Comment

Here in Illufiction, we love comments! Please tell us what you think about this post :)

Illusional Fiction. Powered by Blogger.