Welcome, Lonely Hearts, to the place where loneliness is celebrated. Rejoice, for your search and longing is the sign that you are living.

You might think this is just an illusion. Who knows, it might be your reflection

April 13, 2014

A Day in The Life

- Chapter ini ditulis dengan C. Meis Irianti (Fikom 2012, Setjen PO BPM Kema Unpad 2013) dalam ingatan - 


"Nameless and Faceless (c) 2010, Ishrath Humairah (source)


Kalau aku harus memilih cewek paling berani yang pernah kutemui, aku pasti memilih kamu, Ri.

Kamu tidak pernah gentar dengan tantangan. Tidak ada film horor atau thriller yang membuatmu ketakutan. Mulai dari menggebuk kecoak dengan sandal jepit sampai menggebah senior-senior yang menggencetku waktu SMP, semua kamu lakukan. Tapi ada satu hal yang agak menggelikan : kamu tidak bisa tidur dalam gelap. Sebaliknya, aku tidak bisa tidur kalau lampu menyala. Setiap kamu menginap di rumahku (yang sangat sering terjadi, sampai orangtuaku membelikan tempat tidur bertingkat buat kita), kita pasti berdebat soal ini.

"Apa bedanya sih, Ri? Kalau kamu tidur kan merem juga. Kalau merem kan gelap."

"Beda," kamu ngotot. "Saat merem, gelap memang nggak masalah. Tapi pas kamu buka mata, itu masalah."

"Masalah gimana?"


"Ya, masalah." Kamu bergerak gelisah di tempat tidur di atasku. Suaramu hampir berbisik, "kamu pernah bayangin nggak? Gimana kalau saat kamu membuka mata, semuanya tetap gelap? Semuanya menghilang. Nggak pernah ada cahaya lagi. Semua yang kamu tahu berubah. Itu masalah..."



Aku menertawakanmu, menggoda nila setitik dalam image cewek macho-mu. Namun akhirnya aku berhenti, setelah memasang tirai hitam di sekitar tempat tidur bagianku. Kamu bisa tidur dengan lampu menyala, dan aku tetap nyaman dalam gelap gulita.

Hari ini, sambil menatap rangka bawah tempat tidurmu, aku kembali memikirkan kata-katamu. Tenggorokanku masih tercekat. Setelah tersentak bangun entah berapa menit yang lalu, aku tidak juga bisa terpejam. Sekujur tubuhku dingin oleh keringat yang mengering. Aku mencoba mengingat mimpiku, tapi aku hanya melihat kelebatan warna. Juga kamu, Ri...kamu yang menjauh dalam pusaran entah apa.

Tirai hitamku tersibak. Wajahmu yang mengantuk tampak jenaka, bergantung terbalik berbingkai cahaya. "Kamu mengigau, Cee. Mimpi buruk? Aku bilang juga apa, kalau tidur tuh jangan gelap-gelapan..."

Tapi itu hanya mimpi babak kedua. Tirai hitamku tertutup rapat. Di baliknya lampu menyala, tapi aku tahu bahkan jika tirai ini kubuka, tidak akan ada bedanya.

I have lost you in the darkness. I have lost you in the light.


---

Saat aku turun ke ruang makan, perhatian papa dan mama tertuju ke televisi.

"Pagi Pa, Ma. Nonton apa sih?" tanyaku sambil meraih gelas susu.

"Ini, Sepuluh Sorotan," kata Mama. Tangannya membalik telur dadar di wajan tapi matanya terpaku ke layar.

Aku tidak mengerti kenapa orang tuaku selalu menonton ini setelah berita pagi. Buatku, Sepuluh Sorotan tidak menarik sama sekali. Intinya, mereka mengumpulkan sepuluh video Youtube dengan satu tema, lalu membahasnya dengan sulih suara. Setelah itu, mereka akan menanyai pendapat artis-artis mengenai tema yang mereka bahas. Mama bilang ini pengetahuan umum yang mungkin berguna, tapi aku tidak yakin mengetahui "Sepuluh Perkawinan Artis Tersukses versi Sepuluh Sorotan" akan membantuku dalam mengatasi persoalan hidup yang mana.

Setelah jeda iklan, suara menyebalkan wanita pembawa acara (yang tidak pernah tampak wajahnya) menyebutkan kembali tema hari itu. "Sepuluh Anak Bernyawa Banyak versi Sepuluh Sorotan."

Mataku refleks beralih pada layar, yang kini menayangkan video buram tentang penyelamatan seorang anak dari mobil yang tertimpa runtuhan jalan layang. Bayi mungil yang diselamatkan dari longsoran setelah dua hari dinyatakan hilang. Suara wanita pembawa acara mengayun dengan nada berlebihan, "Sungguh mengagumkan! Sungguh beruntung! Bayi Mehda Begum dari Pakistan bertahan, sementara hampir seluruh keluarganya tewas ditimpa bencana...," kemudian gambar berganti pada seorang artis ibu kota yang lebih terkenal karena affair daripada prestasinya. "Ya...menurut saya wajar kalau anak-anak itu sering terselamatkan dari bencana. Mereka kan masih polos, masih tanpa dosa, pasti ada yang jaga..."

Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak terselamatkan? Apakah mereka terlalu berdosa? Tidak polos, tidak ada yang jaga?

Ingin rasanya aku melempar piringku ke wajah menor artis yang masih berkotek-kotek itu. Mulut berlipstik mahalnya masih perlu makan sekolah!


--- 

Bayangan itu menghantuiku, Ri, bahkan sepanjang kuliah hari ini. Dosen pengantar psikologi menggerak-gerakkan mulutnya di muka kelas, tapi yang diputar dalam otakku malah adegan-adegan tadi. Si anak yang tergencet dalam rongsokan mobil, luka-luka tapi mampu mengedipkan mata. Bayi Mehda Begum yang lusuh dan kotor namun napasnya masih ada. Lalu kamu. Kamu dan kelebatan warna dan pusaran yang entah apa, juga kesempatan kedua yang mereka punya dan kamu tidak.

Apakah jiwaku sudah berubah jadi kelam karena aku tidak bisa lega melihat penyelamatan anak-anak itu, Ri? Yang terpikir olehku hanya kamu juga seharusnya selamat seperti mereka. Kamu juga sama baik dan manisnya. Kamu juga pantas dijaga. Kamu masih punya banyak cita-cita, banyak rencana...namun masa depanmu ditutup dengan satu dentuman keras.

Aku memeluk lutut. Kepalaku pusing, Ri. Bahkan hingga sekarang masih terlalu banyak kata tanya, masih banyak protes tak percaya...

"Cecil, lo kenapa? Lo sakit?"

Ah, nada khawatir itu. Meilan. Anak Jakarta yang nomor induknya tepat di atasku, dan karena itu menganggap aku otomatis teman baiknya di sini. Bukannya aku tidak menganggapnya teman, Ri...hanya saja, tahu kan, kadang-kadang aku butuh sendiri. Tapi susah sekali sendirian di sini, Ri. Makin aku menjauh, anak-anak seangkatanku makin bergerombol ingin menemani. Makin aku diam, makin mereka gatal ingin mengajakku bicara. Terutama Meilan ini. Naluri psikologinya sudah sangat jalan, dia tertarik pada orang yang jiwanya paling nggak beres di sini.

"Nggak apa, Lan," aku menyahut, masih dengan wajah menelungkup di atas paha.

"Beneran nggak apa? Lo pusing? Tadi pagi sarapan nggak?"

Ah, Meilan, kalau bertanya pasti borongan. Daripada tetap menelungkup dan diberondong kekhawatiran, baiknya aku bangkit saja. Memasukkan buku dan alat tulis ke dalam tas dengan sekali kibas. Berjalan setegap mungkin biar Meilan tahu aku tidak apa-apa. Meilan mengernyit, matanya yang sipit jadi cuma segaris, tapi dia tidak berkomentar apa-apa.

"Kita ke teras gedung tiga, Cil. Kan mau ada pertemuan kelompok konselor? Lo nggak lupa kan?"

Tentu saja aku lupa. Pertemuan kelompok konselor...apa pula itu? Kubiarkan Meilan menggiringku melalui koridor dan taman-taman menuju tempat pertemuan. Dari jauh terlihat orang-orang melingkar di teras luas gedung tiga, beberapa di antaranya kukenali sebagai teman seangkatan yang nomor induknya dekat denganku.

Meilan jadi panik sendiri. "Astagaaaa, udah mulai kayaknya Cil!" serunya sambil menggamit lenganku, lalu berjalan lebih cepat. Namun ketika kami makin dekat, dia tiba-tiba berhenti, berbisik padaku dengan nada makin panik, "Astagaaaa, kayaknya kakak konselor kita si kakak ganteng itu, Cil! Aduh, siapa ya namanya..."

Tidak perlu memicingkan mata untuk melihat sosok yang jadi sumber kepanikan Meilan, karena hanya ada dua cowok di lingkaran itu, dan seorang di antaranya seangkatan dengan kami. Cowok-cowok di fakultas ini memang sedikit sekali, Ri. Aku hampir bisa mendengarmu bercanda, "Lebih langka mana sama anoa?" dan aku akan menjawab, "dua puluh persen lebih langka!" Dari populasi yang minim itu, Meilan sudah membidik sekitar setengah di antaranya, sebagian besar dua tingkat di atas kami, untuk jadi gebetannya selama kuliah di sini. Dia bercerita soal cowok-cowok ini minggu kemarin, juga kualitas-kualitas mereka (aku juga bingung dari mana Meilan dapat info banyak soal ini ). Tentu saja, kualitas yang sama-sama mereka miliki adalah 'ganteng'. Agak sulit untuk membedakan Meilan sedang membicarakan yang mana kalau yang dia sebut cuma 'ganteng'.

Namun aku bisa membedakan "kakak ganteng" yang satu ini. Pada masa penerimaan mahasiswa baru, dia pernah menahanku saat aku terpeleset dan hampir jatuh dari tangga. Kamu akan mendengus dan berkomentar, "modus komik serial cantik banget sih, Cee." Tapi kamu tahu sendiri, dengan aku dan kakiku yang sepertinya dua-duanya kiri itu, aku punya beratus-ratus momen dan penolong macam ini.

"Kakak ganteng" ini juga cuma menyuruhku hati-hati, lalu pergi. Memang, ketika kami bertemu di kantin kemudian, dia tersenyum padaku. Tapi aku ragu itu karena dia mengenalku, karena tampaknya dia tersenyum pada semua. Senyum itu pula yang menyambut aku dan Meilan saat kami tergopoh-gopoh mendekati lingkarannya.

"Meilani dan Cecilia, ya?"

"Eh...eh...iya Kak," jawab Meilan ngos-ngosan. "Kami telat ya?"

"Nggak kok, saya baru selesai memperkenalkan diri," katanya. "Biar saya ulang lagi deh. Saya kakak konselor untuk kelompok kalian tahun ini. Nama saya Ryan..."

Ryan?

Ryan?



And somebody spoke and I went into a dream...

AN : Larik terakhir adalah lirik dari lagu The Beatles "A Day in The Life".

0 comments:

Post a Comment

Here in Illufiction, we love comments! Please tell us what you think about this post :)

Illusional Fiction. Powered by Blogger.