Welcome, Lonely Hearts, to the place where loneliness is celebrated. Rejoice, for your search and longing is the sign that you are living.

You might think this is just an illusion. Who knows, it might be your reflection

June 6, 2014

Air Mata

Terkadang saya berpikir bahwa bayi yang lahir menangis adalah caranya sendiri untuk menggugat kedua orangtuanya. Tidak ada satu bayipun yang meminta untuk dilahirkan. Kami semua korban perkosaan yang dilegalkan. Dan tidak sedikit dari kami yang lahir dari perkosaan sungguhan.

***

Kami menangis karena kami dipaksa meninggalkan gua pribadi kami. Kami menangis karena bahkan ketika kami belum mengerti patah dua patah kata, kami dipaksa untuk memahami. Kami diminta untuk memenuhi doa ibu bapak kami.

“semoga kamu menjadi gadis yang baik.”
“anak laki-laki jagoan ayah!”
“daddy’s little girl”
“teman ayah bermain bola!”

Kami menangis karena pada akhirnya kami memilih untuk menjadi gadis yang sepertinya tidak terlalu baik untuk mereka. Bibir kami menyulut rokok. Kami lebih memilih memakai rok mini ketimbang celana atau rok panjang, dan sebelum pukul dua kami belum mau pulang.
Kami menangis karena kami lebih memilih memakai rok ketimbang jas. Kami lebih memilih mengikuti ekskul dance ketimbang basket. Kami lebih memilih warna pink ketimbang biru. Kami lebih memilih mengkastrasi kelamin kami ketimbang menjadi laki-laki. Katanya, kami membuat sedih sekali lagi. Padahal airmata mengucur dari mata kami deras sekali.
Kami menangis karena memakai rok memalukan bagi kami. Kami menangis karena rambut panjang itu rasanya gerah sekali. Kami menangis ketika mereka menertawai kami. Kami yang lebih memilih mencintai sesama perempuan ketimbang mencintai kelamin lainnya, laki-laki.
Sepertinya kami mengecewakan.
Kami menangis ketika kami yang lebih suka hidup sendiri dipaksa untuk menikah. Kata mereka perempuan yang melajang mencoreng nama keluarga. Kami menangis karena ketika pada akhirnya kami menikah, suami kami lebih memilih berada diluar bersama wanita lainnya. Kami menangis karena kami yang tidak piawai berdandan masih menjadi alasan dan pemakluman para lelaki kami yang akhirnya menghabiskan waktu dengan para simpanan.
Airmata kami masih serupa pancuran.
Kami menangis ketika pekerjaan di kantor luar biasa merongrong. Ketika istri yang kami nikahi dan diharapkan mampu menyuguhkan air putih dingin lepas kami bekerja lebih memilih untuk pergi ke mall dan memborong. Kami menangis karena kelaki-lakian kami diukur oleh sprema yang mampu berenang gesit dan menghampiri sel telur istri kami yang ternyata main serong. Yang ternyata mengandung anak dari lelaki lain yang bukan kami. Kami heran sekali. Kenapa kelelakian kami berhenti hanya karena tidak bisa menghamili? Bukankah ketika lahir para dokter dan perawat mengamini jenis kelamin kami, laki-laki?
Kami menangis karena tidak mengerti.
Kami masih menangis karena kami menuntut balas. Kemana ayah ketika kami bukan lagi gadis kecil mereka? Kemana ayah ketika ibu yang sendiri menua dan akhirnya meregang nyawa? Kemana ayah ketika kami butuh pahlawan pribadi kami semua?
Saya, kami, sungguh murka!
Kami menangis karena dongeng putri yang dibacakan ibu ternyata begitu berbeda. Kami menangis karena selain naga dan nenek sihir ternyata banyak lagi yang menakutkan di hidup pada akhirnya. Kami menangis karena dunia jauh dari indah, jauh dari yang mereka janjikan pada kami dulu ketika kami masih bayi merah dan tawa kami masih menghibur mereka. Siapa yang harus bertanggung jawab dengan semua?
***
Saya tertawa sesudahnya,
Saya tahu tidak akan ada sesiapa yang datang ketika kami menangis sesengukan seada-adanya.
Seperti yang sudah-sudah mereka hanya akan berlomba-lomba ketika kami mengeluarkan tawa.
Begitu seterusnya.
***


Terkadang saya berpikir bahwa bayi yang lahir menangis adalah caranya sendiri untuk menggugat kedua orangtuanya. Tidak ada satu bayipun yang meminta untuk dilahirkan. Kami semua korban perkosaan yang dilegalkan. Dan tidak sedikit dari kami yang lahir dari perkosaan sungguhan. Kami diajarkan untuk tertawa agar terlupa dengan airmata sementara. Sementara yang ternyata tidak terlalu lama. Begitulah seterusnya…










Masih di awang Gili Trawangan minggu lalu, 2014

Annisa Ninggorkasih

0 comments:

Post a Comment

Here in Illufiction, we love comments! Please tell us what you think about this post :)

Illusional Fiction. Powered by Blogger.